Lansia Kita di Tanah Suci, Antara Keterbatasan dan Harapan

  • Bagikan

Oleh : Fredy Akbar K

Dosen Keperawatan Gerontik STIKES Marendeng Majene

WARTAAMPERAK.COM_MAJENE_))))))))) Fenomena jemaah haji Lanjut Usia (Lansia) yang tampak kebingungan lalu viral di media sosial, termasuk yang dikaitkan dengan jemaah asal Provinsi Sulawesi Barat, seharusnya tidak kita berhentikan pada rasa heran atau bahkan penilaian sepihak. Justru di situlah kita diuji sejauh mana kita mampu melihat dengan hati, bukan sekadar mata.

Hari ini, realitas jemaah haji Indonesia telah berubah. Data menunjukkan bahwa pada penyelenggaraan haji 2025, sekitar 37 persen jemaah adalah Lansia. Sebelumnya bahkan sempat mencapai 44 persen pada tahun 2023. Artinya, hampir separuh tamu Allah dari Indonesia adalah orang-orang yang secara fisik dan kognitif sudah berada pada fase rentan.

Memasuki tahun 2026, tantangan ini semakin nyata. Dari sekitar 221 ribu jemaah Indonesia, lebih dari 177 ribu masuk kategori risiko tinggi, mayoritas karena usia lanjut dan penyakit penyerta. Bahkan, sekitar 10 hingga 15 persen jemaah mengalami gangguan mental, dan sebagian besar di antaranya adalah lansia dengan gejala yang mengarah pada demensia. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah wajah orang tua kita.

Sebagai dosen keperawatan gerontik, dan dari pengalaman saya berhaji pada tahun 2023, saya melihat langsung bagaimana Lansia berjuang di tengah lautan manusia, suhu ekstrem, dan ritme ibadah yang tidak ringan. Ada yang lupa jalan pulang, ada yang berulang kali bertanya, ada yang tampak menolak bantuan bukan karena tidak mau, tetapi karena bingung dan cemas di lingkungan yang terasa asing. Namun yang jarang kita lihat adalah sisi lainnya. Mereka mungkin lupa nama pendampingnya, tetapi masih mampu melafalkan doa.

Mereka mungkin kehilangan arah, tetapi tidak kehilangan niat. Mereka mungkin lemah secara fisik, tetapi kuat secara spiritual. Inilah yang sering tidak terbaca dalam video-video viral.

Kita terlalu cepat memberi label: “demensia”, “gangguan jiwa”, “tersesat”. Padahal dalam ilmu gerontik, tidak semua kebingungan adalah demensia. Banyak Lansia mengalami kebingungan akut akibat kelelahan, dehidrasi, kurang tidur yang bahkan dialami oleh 30 hingga 40 persen jemaah haji.

Sayangnya, ruang media sosial tidak selalu memberi ruang untuk memahami. Yang muncul adalah potongan kejadian, tanpa konteks, tanpa cerita utuh. Di titik ini, saya ingin mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apa yang bisa kita lakukan? Kepada keluarga, jangan hanya melepas Lansia berhaji sebagai bentuk “bakti”, tetapi pastikan mereka benar-benar didampingi oleh orang yang memahami kondisi mereka.

Kepada petugas dan tenaga kesehatan, angka lansia yang terus meningkat adalah sinyal kuat bahwa pendekatan pelayanan harus semakin ramah lansia dan sensitif terhadap gangguan kognitif.

Dan kepada kita semua masyarakat, termasuk para pengguna media social mari ubah cara kita melihat. Jika bertemu Lansia yang kebingungan, jangan cukup direkam. Dekati. Sapa. Bantu. Dampingi. Karena bisa jadi, suatu hari nanti, posisi itu akan berganti. Dan kitalah yang membutuhkan uluran tangan itu.

Pengalaman saya di Tanah Suci mengajarkan satu hal sederhana: kadang membantu Lansia tidak butuh keahlian tinggi. Cukup dengan menggandeng tangan, berjalan pelan, dan berbicara dengan sabar.

Fenomena ini bukan tentang siapa yang salah. Ini tentang seberapa besar kepedulian kita masih hidup.

Sebab di balik setiap Lansia yang kebingungan di Tanah Suci, ada satu hal yang tidak pernah hilang harapan untuk menyempurnakan ibadah di penghujung usia.

Dan tugas kitalah memastikan mereka tidak berjalan sendiri dalam perjalanan itu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *