Ratusan Warga Hadiri Tahlilan, Hj. Fatmawati Salim Kenang 48 Tahun Perjalanan Hidup Bersama Almarhum

  • Bagikan

 

WARTAAMPERAK.COM_POLMAN_/////////// Ratusan warga dari berbagai daerah memadati kediaman almarhum Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga, di Rumah Jonga, Kelurahan Takatidung, Polewali Mandar, Selasa (10/02/2026). Mereka hadir untuk mengikuti tahlilan dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada tokoh yang dikenal sederhana, berintegritas, dan dekat dengan masyarakat.

Sejak sore, warga berdatangan dari berbagai kecamatan di Polewali Mandar. Mereka memenuhi rumah duka untuk memanjatkan doa bagi almarhum yang wafat beberapa hari lalu setelah perjalanan panjang pengabdian di dunia kemiliteran dan pemerintahan.

Suasana haru menyelimuti kediaman keluarga saat rangkaian tahlil dimulai. Tampak Bupati Polewali Mandar Samsul Mahmud, sejumlah anggota DPRD Sulawesi Barat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan kerabat dekat turut hadir memberikan penghormatan serta dukungan moral. Doa bersama dipanjatkan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Rangkaian acara juga diisi tausiah oleh Imam Masjid Raya Pembusuang yang menyampaikan pesan tentang kematian dan keikhlasan. Dalam tausiahnya, ia mengingatkan bahwa setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta, sehingga penting mempersiapkan diri dengan amal baik serta menerima takdir Allah dengan lapang dada. Ia juga mengajak jemaah mengambil hikmah dari wafatnya almarhum sebagai pengingat akan ketidakabadian hidup dan pentingnya menjaga hubungan antarsesama.

Pada kesempatan tersebut, istri almarhum, Hj. Fatmawati Salim, menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat yang hadir. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan permohonan maaf atas keputusan keluarga terkait lokasi pemakaman almarhum.

“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, bapak tidak bisa dimakamkan di sini. Ada banyak pertimbangan keluarga, dan kami berharap masyarakat dapat memaklumi,” ujarnya.

Hj. Fatmawati kemudian mengenang perjalanan hidupnya bersama almarhum selama lebih dari 40 tahun. Ia menggambarkan suaminya sebagai sosok sederhana, rendah hati, dan selalu menghargai siapa pun tanpa membeda-bedakan.

“Selama 40 tahun bersama beliau, memang bapak begitu adanya. Hidup sederhana, selalu menghargai siapa pun, meskipun orang itu tidak dikenal. Alhamdulillah, selalu ada rezeki untuk berbagi, dan sifat itu tidak pernah berubah,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa sifat dermawan almarhum sudah melekat sejak awal pernikahan mereka.

“Sejak kami menikah, saat beliau bertugas di Batalyon, kemudian pindah ke Jawa Tengah dan Jawa Barat, hingga kembali ke Sulawesi Barat, beliau tidak pernah mengabaikan siapa pun. Siapa saja yang datang, selalu beliau bantu semampunya,” tambahnya.

Kegiatan tahlilan dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari. Warga masih terus berdatangan untuk memberikan doa, dukungan, dan penghormatan terakhir kepada keluarga.

Acara malam itu ditutup dengan doa oleh Imam Masjid Lemo Susu, menambah kekhidmatan suasana tahlilan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *